BAGUS BT. SARAGIH
“Kami berhasil menegosiasi jadi US$ 58 juta dari US$ 62 juta,” kata Mensesneg Sudi Silalahi bangga, baru-baru ini. Itu untuk beli pesawat kepresidenan ala Air Force One-nya Barrack Obama.
Tidak se-wah punya Obama, memang, tapi tetap saja angkanya terlihat wah. US$ 58 juta kan hampir Rp. 500 miliar? Itu nyaris sama dengan APBD Kota Cimahi tahun 2011: Rp 575 miliar.
Jadi ingat Walikota Solo Joko Widodo. Jokowi panggilannya. Saya tahu dia baru-baru saja, dari acara televisi. Lantas saya dengar banyak hal positif tentang dia, jadi yakin dengan impresi sesaat saya waktu nonton TV.
Mobil dinas Jokowi jadul, lungsuran sejak 2002. Sering mogok. “Kalau mogok ya didorong sedikit juga hidup lagi,” kata Jokowi di TV.
Ada teman cerita. Suatu ketika, mogok mobilnya kambuh, dan Jokowi naik angkot supaya tidak terlambat.
“Kiri, Pak,” kata Jokowi pas angkotnya sudah di depan kantor walikota.
Sopir malah belok ke dalam kompleks kantor, meski sudah dicegah Jokowi.

Joko Widodo (sayangdibuang.wordpress.com)
Ya sudah, Pak Wali pun bayar. Pas sesuai tarif: Rp. 2.000.
Terang saja sopir salah tingkah dan menolaknya. “Sampeyan niki niat golek duwit ora?” kata Jokowi. Pak sopir pun tidak ada pilihan.
Itu baru satu cerita soal Jokowi yang bersahaja dan sederhana. Dia jadi kebanggaan warga Solo. Lebih 90% pemilihnya tentu tidak menyesal.
Katanya, Pak Jokowi yang pengusaha mebel ini juga selalu menghabiskan gajinya untuk nyangoni orang kecil.
Para pemilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bagaimana ya?
Awam saya, tapi kan dia berulang kali gembar gembor soal penghematan?
Awam saya, apa sih urgensinya pesawat ala Air Force One?
Awam saya, bukankah Pak SBY justru akan mendapat respect saat tampil sederhana di negeri orang?
Tidakkah seharusnya kita bangga ketika Presiden naik flag carrier Garuda Indonesia untuk kunjungan kenegaraan, seperti warga Solo bangga dengan kesederhanaan Jokowi?
Bukankah lebih baik Rp 500 miliar itu untuk bangun 14,000 sekolah di pelosok negeri, daripada dikasi ke Boeing di Amerika sana?
Kemacetan Jakarta, turut disumbang dari para pemuja status yang bangga kalau rodanya 4 (walau bahan bakarnya bersubsidi). Tabiat begini ternyata juga dimiliki para pemimpin negeri.



