Pojok Celoteh

This is a blog of Bagus Budi Tama Saragih, an Indonesian journalist. I write ideas about Indonesia’s press as well as news story and opinion in this blog.

You are currently browsing the Feature category.

Agar Jakarta Tidak Lagi Sakit

Kapankah luas RTH di Jakarta mencapai kondisi ideal?


Bang Ali dulu menetapkan Kawasan Kelapa Gading sebagai areal resapan. Kini, sebagian kawasan itu telah menjelma menjadi Mal Artha Gading dan Kelapa Gading Square.

Tidak heran bila mantan walikota Bogota, Kolombia, Enrique Penalosa mencap Jakarta sebagai kota yang sakit. “Ciri-ciri kota yang sakit dapat dilihat dari banyaknya mal,” sindir pencetus konsep busway Trans-Milenio itu saat berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu.


BAGUS BT SARAGIH


Di Rio de Janeiro, Brazil, Juni 1992, palu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi diketok. Kesepakatan diambil oleh para pemimpin dunia: luas ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan perkotaan tidak boleh kurang dari 30%. Tapi saat ini Jakarta hanya punya RTH seluas 9,6%.

Perhelatan akbar yang dihadiri ribuan orang dari seluruh penjuru bumi 16 tahun lalu itu berangkat dari kesadaran bahwa bumi sudah kritis dan harus diselamatkan. Di tataran perkotaan, RTH memainkan peranan vitalnya sebagai penyeimbang ekologi dan kualitas lingkungan. Terlebih dengan semakin parahnya dampak pemanasan global belakangan ini.

Dengan RTH, pencemaran udara bisa diminimalisasi. Apalagi pada Oktober 1995, UNEP (United Nations for Environmental Project) menobatkan Jakarta sebagai kota berudara paling buruk ketiga di dunia setelah Mexico City dan Bangkok. RTH juga berperan sebagai areal resapan yang bisa mengurangi ancaman banjir. Selain itu, ruang terbuka publik bisa menjadi identitas kota dan sarana rekreasi dan olah raga bagi warga Jakarta.

Arti penting RTH ini disadari betul oleh 115 pimpinan negara-negara di dunia yang menghadiri KTT itu, termasuk Presiden Soeharto. Sayangnya, aturan RTH minimal 30% baru diratifikasi di Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penaataan Ruang.

Memang, boleh jadi hanya segelintir kota saja di muka bumi ini yang sudah mencapai syarat 30% itu. Tapi sejumlah metropolitan di dunia berupaya keras untuk mencapai target.

New York dalam rencana tata ruangnya, menargetkan RTH-nya bisa mencapai 25,2% pada 2020. Sementara Tokyo berani menargetkan 32% pada 2015. Beijing, mengklaim mampu punya RTH seluas 43% pada 2009. Bahkan Singapura yang lahannya sangat terbatas saja berani memasang target RTH seluas 37% pada 2034.

Bagaimana dengan Jakarta? Di saat kota-kota lain berlomba mencapai hasil KTT Bumi 1992, rencana luas RTH di Ibukota Republik ini malah selalu turun dari tahun ke tahun.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mematok angka 37,2% (24.180 hektare) untuk RTH, bahkan sebelum KTT Bumi diselenggarakan. Hal itu ia tuangkan dalam Rencana Induk Djakarta 1965 – 1985. Pada era Gubernur Soeprapto, angka itu dipangkas menjadi 26,1% (16.965 hektare) dan dimasukkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta 1985 – 2005.

Continue Reading…

  • Facebook
  • Twitter
  • WordPress
  • Blogger Post
  • Hotmail
  • Gmail
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Yahoo Messenger
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Google Reader
  • Delicious
  • Digg
  • Windows Live Favorites
  • AIM
  • Windows Live Spaces
  • Yahoo Bookmarks
  • Share/Bookmark

Posted 1 year ago at 7:23 am.

5 comments

Antara Edhie Baskoro, Zaenal Maarif dan Situ Gintung

BAGUS BT. SARAGIH

Kalau saya korban Situ Gintung, saya tersinggung berat dengan Kapolda Jawa Timur Brigjen Anton Bahrul Alam.

Menangani urusan pencemaran nama baik satu orang bisa secepat kilat, kok urusan bencana yang menyebabkan ratusan korban adem ayem aja.

Tidak sampai 2 hari setelah berita soal dugaan money politic yang dilakukan putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono, muncul di media massa, Brigjen Anton menggelar jumpa pers. Tumben-tumbenan seorang kapolda langsung ngomong ke publik hanya soal pencemaran nama baik.

Dengan cekatan pula polisi menjemput sang penyebar isu money politic, Nazirin, caleg Gerindra di Ponorogo. Ujug-ujug, dia ditetapkan sebagai tersangka bersama jurnalis Okezone.com, Harian Bangsa dan The Jakarta Globe

Coba bandingkan dengan sikap Kadiv Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira yang terkesan ogah-ogahan kalau ditanya soal penyelidikan Situ Gintung. “Kalau ada indikasi kelalaian, baru disidik,” katanya.

Padahal Walhi dan BPPT jelas-jelas bilang tanggul jebol karena ada unsur kelalaian. Laporan Walhi ke Bareskrim juga cuma dianggap sebagai masukan.

Ini sudah 2 minggu lho sejak tragedi yang menewaskan ratusan jiwa itu. Sementara ratusan pengungsi juga masih was-was dengan kelanjutan hidup mereka.

Mbok ya polisi periksa tuh semua pejabat-pejabat PU yang bertanggung jawab memelihara tanggul. Siapa yang terbukti lalai menjalankan tanggungjawabnya, jadiin tersangka.

Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono sepertinya harus belajar sama Brigjen Anton supaya bisa ngebut mengusut Situ Gintung. Continue Reading…

  • Facebook
  • Twitter
  • WordPress
  • Blogger Post
  • Hotmail
  • Gmail
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Yahoo Messenger
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Google Reader
  • Delicious
  • Digg
  • Windows Live Favorites
  • AIM
  • Windows Live Spaces
  • Yahoo Bookmarks
  • Share/Bookmark

Posted 1 year, 5 months ago at 4:44 am.

2 comments

Situ Gintung tampak dari udara

Courtesy of Google Earth

Beginilah Situ Gintung beberapa waktu sebelum terjadi musibah…

  • Facebook
  • Twitter
  • WordPress
  • Blogger Post
  • Hotmail
  • Gmail
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Yahoo Messenger
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Google Reader
  • Delicious
  • Digg
  • Windows Live Favorites
  • AIM
  • Windows Live Spaces
  • Yahoo Bookmarks
  • Share/Bookmark

Posted 1 year, 5 months ago at 7:58 am.

Add a comment

Integritas Seorang Ketua RT

BAGUS BT. SARAGIH

Puluhan orang duduk beralaskan tikar di bawah tenda terpal itu, Rabu (25/10) pukul 09.30 WIB. Sebagian besar di antara mereka adalah ibu-ibu, remaja putri dan anak-anak. Sementara yang tidak kebagian tempat di bawah tenda terpaksa berdiri atau jongkok sambil bercengkerama di bawah panas terik. Beberapa orang lainnya terlihat hilir mudik, ada yang berpakaian palang merah, ada juga yang berseragam tentara.

Di dekat pintu masuk terdapat papan bertulisan tangan “Posko Kebakaran RT 02/04”. Sedikit di samping papan itu ada sebuah meja yang dikerumuni beberapa orang. Meja penerimaan dan penyerahan bantuan dari para donator. Banyak orang yang datang hendak turut menyumbang, mulai dari uang ribuan rupiah, hingga berdus-dus mi instan. Tidak kalah banyaknya warga yang berebut ingin menerima bantuan. Hanya sedikit saja dari orang-orang ini yang terlihat ceria, atau minimal menunjukkan senyum.

Tak lama kemudian serombongan ibu-ibu datang menghampiri ibu-ibu korban kebakaran yang duduk di sana. Sepertinya mereka adalah kerabat para korban. Mereka pun disambut dengan pelukan dan tangisan. Seketika suasana menjadi haru. “Ya inilah situasi posko (pos koordinasi) kami mas, tempat kami sementara berteduh” ujar Surya Ari Wibowo, Ketua RT 02, Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor dengan logat Sunda yang kental. Karena itulah, ujarnya, warga yang menjadi korban pun harus berlebaran dan bersilaturahmi di tenda posko.

Continue Reading…

  • Facebook
  • Twitter
  • WordPress
  • Blogger Post
  • Hotmail
  • Gmail
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Yahoo Messenger
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Google Reader
  • Delicious
  • Digg
  • Windows Live Favorites
  • AIM
  • Windows Live Spaces
  • Yahoo Bookmarks
  • Share/Bookmark

Posted 2 years, 5 months ago at 4:49 am.

Add a comment

Aksi Polairud Menghalau Penyelundup..

HUT satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polri ke-56, 2006

BAGUS BT. SARAGIH

SEBUAH jet boat putih melaju kencang membelah perairan Teluk Jakarta. Kapal berbendera asing itu bernama ‘Sundaicus’. Lima orang penumpangnya yang berpakaian hitam-hitam duduk dalam posisi siaga. Mereka menenteng senjata laras panjang.

Tiba-tiba, sebuah helikopter Polisi Udara Polri (Heli) yang terbang rendah menghampiri dan berusaha mencegat kapal cepat itu. Ia tak mau berhenti. Padahal jarak antara Sundaicus dan Heli hanya sekitar 5 meter. Rupanya, kapal cepat itu milik sindikat narkoba internasional yang diduga membawa heroin seberat 1 ton! Polisi tentu tak rela membiarkan barang haram itu menodai tanah Indonesia.

Dor dor dor!, penjahat-penjahat itu malah menembaki helikopter polisi. Merasa diserang, Heli segera membalas tembakan dan berusaha melumpuhkan Sundaicus. Terlihat seorang anggota Polri dalam posisi tengkurap di kabin Heli, berusaha membidik Sundaicus. Moncong senjata laras panjangnya mencuat dari pintu Heli dan diarahkan ke pengemudi Sundaicus.

Sementara itu, dalam kecepatan tinggi, awak Sundaicus tetap menembaki Heli. Saling tembak pun terjadi. Deru mesin boat, kepak baling-baling Heli dan suara tembakan yang berbalasan membuat suasana Teluk Jakarta semakin mencekam. Continue Reading…

  • Facebook
  • Twitter
  • WordPress
  • Blogger Post
  • Hotmail
  • Gmail
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Yahoo Messenger
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Google Reader
  • Delicious
  • Digg
  • Windows Live Favorites
  • AIM
  • Windows Live Spaces
  • Yahoo Bookmarks
  • Share/Bookmark

Posted 3 years, 7 months ago at 1:40 am.

Add a comment

‘Jadi Politisi, Siapa Takut?’

BAGUS BT. SARAGIH

POLITIK? Apa yang pertama kali terbayang ketika mendengar ‘politik’? Pejabat yang tidur waktu sidang, korupsi, adu kekuatan, manipulasi, atau gambar tikus pakai dasi? Kalau imej ini tidak cepat-cepat dihilangkan, lama-lama kita bisa alergi politik!

Jangan bayangkan perkataan ini diucapkan oleh seorang politikus, atau seorang pengamat politik yang sedang cuap-cuap di televisi. Secuplik kalimat di atas adalah tulisan seorang pelajar SMU yang tertumpah dalam satu sobekan kertas kecil yang ditempel di selembar kertas merah tua ukuran 0,5 X 1 meter. Bersandingan dengan celotehan-celotehan polos lainnya, serta beberapa gambar karikatur dan foto yang ditata sedemikian rupa, terbentuklah suatu karya majalah dinding (mading) yang artistik.

Karya siswa-siswi SMU Islam Al-Azhar itu adalah salah satu peserta dalam acara lomba mading antar SMU se DKI Jakarta yang bertema Politic is Beautiful and Fun (Politik itu indah dan menyenangkan). Belasan mading dan karikatur-karikatur politik lainnya disusun berjejer di gedung Nusantara II DPR RI, 13 November silam. Tak pelak, warna-warninya membuat suasana markas wakil rakyat itu jadi lebih semarak. Orang-orang yang lalu-lalang pun terpancing untuk mampir barang sejenak, membaca dan melihat karya anak-anak SMU itu. Continue Reading…

  • Facebook
  • Twitter
  • WordPress
  • Blogger Post
  • Hotmail
  • Gmail
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Yahoo Messenger
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Google Reader
  • Delicious
  • Digg
  • Windows Live Favorites
  • AIM
  • Windows Live Spaces
  • Yahoo Bookmarks
  • Share/Bookmark

Posted 3 years, 7 months ago at 9:31 am.

1 comment