Pojok Celoteh

This is a blog of Bagus Budi Tama Saragih, an Indonesian journalist. I write ideas about Indonesia’s press as well as news story and opinion in this blog.
Previous Post: ‘Jadi Politisi, Siapa Takut?’   Next Post: Integritas Seorang Ketua RT

Aksi Polairud Menghalau Penyelundup..

HUT satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polri ke-56, 2006

BAGUS BT. SARAGIH

SEBUAH jet boat putih melaju kencang membelah perairan Teluk Jakarta. Kapal berbendera asing itu bernama ‘Sundaicus’. Lima orang penumpangnya yang berpakaian hitam-hitam duduk dalam posisi siaga. Mereka menenteng senjata laras panjang.

Tiba-tiba, sebuah helikopter Polisi Udara Polri (Heli) yang terbang rendah menghampiri dan berusaha mencegat kapal cepat itu. Ia tak mau berhenti. Padahal jarak antara Sundaicus dan Heli hanya sekitar 5 meter. Rupanya, kapal cepat itu milik sindikat narkoba internasional yang diduga membawa heroin seberat 1 ton! Polisi tentu tak rela membiarkan barang haram itu menodai tanah Indonesia.

Dor dor dor!, penjahat-penjahat itu malah menembaki helikopter polisi. Merasa diserang, Heli segera membalas tembakan dan berusaha melumpuhkan Sundaicus. Terlihat seorang anggota Polri dalam posisi tengkurap di kabin Heli, berusaha membidik Sundaicus. Moncong senjata laras panjangnya mencuat dari pintu Heli dan diarahkan ke pengemudi Sundaicus.

Sementara itu, dalam kecepatan tinggi, awak Sundaicus tetap menembaki Heli. Saling tembak pun terjadi. Deru mesin boat, kepak baling-baling Heli dan suara tembakan yang berbalasan membuat suasana Teluk Jakarta semakin mencekam.

Sundaicus berusaha menggunakan keunggulan kelincahannya dengan melaju lebih kencang dan berbelok-belok. Heli tetap terbang rendah dan membuntutinya. Adu kelincahan antara heli dan kapal cepat ini sangat seru. Sempat terlihat Sundaicus akan lolos dari kejaran, namun sang pilot ternyata tak kalah lihai. Heli itu mampu pula meliuk-liuk dalam ketinggian yang sangat minim.

Tak lama kemudian, sebuah perahu karet dari Special Boat Unit Polri datang membantu. Dengan tiga personil bersenjata, ia membantu upaya Heli untuk melumpuhkan tersangka.

Sundaicus pun terpojok. Polisi berhasil melumpuhkan mereka. Tak lama, Kapal Polisi (KP) Perkutut tiba dan menggiring tersangka beserta barang bukti ke tepi untuk diamankan. Adrenalin yang sempat meninggi perlahan turun. Lega. Polisi Indonesia, dengan satuan dari Polisi Perairan dan Udaranya mampu melumpuhkan sindikat narkoba internasional yang hendak menyelundupkan satu ton heroin. Ribuan anak muda Indonesia pun terselamatkan dari barang laknat itu.

Adegan tadi merupakan atraksi yang diperagakan oleh satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polri dalam rangka ulang tahunnya ke-56, Jumat (1/12). Kapolri Jenderal Pol Sutanto, Wakapolri Komjen Pol Adang Dorodjatun, dan segenap perwira tinggi Polri pun dibuat terpukau akan kebolehan itu. Tepuk tangan sontak menggemuruh usai atraksi.

Dalam acara yang diselenggarakan di Direktorat Kepolisian Perairan Polri di Tanjung Priuk, Jakarta Utara itu, Polairud berhasil membuktikan kemampuannya mengamankan perairan Indonesia. “75% wilayah Indonesia terdiri dari perairan. Banyak kejahatan seperti illegal logging, illegal mining, illegal fishing, perdagangan narkoba hingga penyelundupan BBM menggunakan wilayah perairan,” kata Kapolri sesaat usai atraksi berakhir. Ia menekankan peranan Polairud yang sangat penting di negara perairan seperti Indonesia.Karena itulah, sudah semestinya ketangguhan mereka ditingkatkan, baik fisik maupun non fisik.

Dalam acara itu pula, delapan kapal baru menambah kekuatan armada Polairud. Empat kapal diantaranya merupakan kapal kelas B-2 berkecepatan maksimum 28 knotyang berfungsi untuk patroli dan pemadam kebakaran. Kapal-kapal ini antara lain bernama Kepodang, Jalak, Manyar, dan Cucak Rawa. Empat sisanya merupakan kapal kelas C-1 berkecepatan maksimum 35 knot yang juga mampu melakukan pengejaran. Kapal-kapal ini antara lain bernama Mantras, Pipit, Parkit, dan Perkutut. KP Perkutut ini yang digunakan dalam atraksi ketika menggiring Sundaicus untuk diamankan.

Meski demikian, diakui Kapolri, tambahan armada ini masih jauh dari cukup. “Kami masih perlu tambahan fasilitas dan kapal,” katanya. Namun Kapolri memuji keberhasilan Polairud, yang meski banyak keterbatasan, mampu mengamankan Selat Malaka. “Dulu kasus perompakan di Selat Malaka mencapai 200 kasus dalam setahun. Dengan bantuan TNI AU dan kepolisian negara tetangga, Polri berhasil menurunkan angka itu secara signifikan,” paparnya.

Kinerja positif jajaran Polairud juga dibuktikan dengan disematkannya bintang pernghargaan kepada empat anggotanya. Mereka dianggap telah menunjukkan kesetiaan kepada Polri, negara dan bangsa serta menjunjung tinggi HAM. Adalah AKP Bambang Purwoyo, Komandan Kapal Polisi Kelas-B, Direktorat Polisi Perairan yang menerima Bintang Bhayangkara Nararya dari Presiden RI. Sedangkan AKP Bambang Hermanto, Kepala Kapal Mesin, Kapal Polisi Kelas-A, Direktorat Polisi Perairan, Bripka Susianto, Bintara Urusan Perencanaan Subbag Perencanaan dan Administrasi (Renmin), Direktorat Polisi Udara dan Briptu Ristiyanto, Bintara Urusan Administrasi Subbag Renmin, yang menerima penghargaan Satya Lencana Kesetiaan dari Kapolri karena telah menunjukkan kesetiaan selama masing-masing 24, 16, dan 8 tahun.

Semangat dan kinerja Polairud yang baik ini tentu akan lebih sempurna bila dukungan infrastruktur dan armada juga memadai. Harapannya, Indonesia sebagai negara maritim tidak lagi dijadikan ajang kriminalitas yang beroperasi melalui laut.

  • Facebook
  • Twitter
  • WordPress
  • Blogger Post
  • Hotmail
  • Gmail
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Yahoo Messenger
  • Google Bookmarks
  • MySpace
  • Google Reader
  • Delicious
  • Digg
  • Windows Live Favorites
  • AIM
  • Windows Live Spaces
  • Yahoo Bookmarks
  • Share/Bookmark

Tags: , ,

Posted in Feature and News 3 years, 7 months ago at 1:40 am.

Add a comment

No Replies

Feel free to leave a reply using the form below!


Leave a Reply